Misteri Dibalik Wafatnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Salam

Oleh : Joko Rinanto

Ketika kita kecil, mungkin kita sering mendengar guru pelajaran agama di sekolah kita menceritakan kisah tentang Nabi Muhammad SAW adalah sebagai orang yang memiliki kesehatan yang prima, terhitung hanya beberapa kali beliau menderita sakit. Gambaran mengenai keteladanan beliau dalam menjaga kesehatan sudah bukan hal yang asing di telinga kita, tetapi gambaran mengenai perjalanan menuju wafatnya Rasulullah SAW di usia enam puluh tiga tidak banyak dari kita yang mengetahuinya. Bahkan, kisah makar yang mewarnai perjalanan menuju wafatnya beliau SAW belum pernah kita dengar.

Sebelumya, pernahkah kita berfikir ketika kita membaca riwayat-riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW begitu menjaga kesehatan diri beliau dengan kedisiplinan yang tinggi dan tidak pernah beliau mendzolimi diri sendiri, Tetapi mengapa usia beliau hanya mencapai enam puluh tahun lebih?Jika dikatakan karena takdir, memang itu tidak salah, tetapi takdir pun akan disertai oleh kejadian yang menyertainya sehingga takdir itupun terjadi. Demikian juga dengan proses menuju takdir yang menetapkan Rasulullah SAW akan diwafatkan dalam usia yang terbaik ada perjalanan yang menjadi perantaranya.

Konspirasi makar itu tidak pernah padam.

Perjalanan yang menyebabkan wafatnya rasulullah SAW tidak lepas dari makar kaum Yahudi yang memang berkarakter fasiq. Setiap diutus seorang Nabi untuk membawa kebenaran kepada mereka tidak lepas dari target pembunuhan bsngsa Yahudi, tidak terkecuali Rasulullah SAW.

Bukti ini telah tersirat ketika Abu Thalib membawa serta beliau SAW berdagang dan mereka berdua bertemu dengan seorang Rahib, lantas saja Rahib tersebut memperingatkan agar Abu Thalib membawa pulang Rasulullah SAW yang kala itu masih remaja dan disarankan untuk menghindari makar bangsa yang dengki atas Kelahiran Nabi terakhir yang kenyataannya berasal dari bangsa arab. “Apakah setiap datang kepadamu seorang Rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu telah dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh…”(Al Baqarah:87)


Kisah lain sebagai bukti kedengkian bangsa Yahudi adalah upaya pembunuhan yang dilakukan seorang Yahudi di Khaibar dan akhirnya menjadi perantara untuk mencapai syahidnya Rasulullah SAW.

Dikisahkan dalam Zadul Ma’ad di bab Ath Thibbun Nabawi karangan Ibnu Qoyyim Al Jauziyah abdu Ar-Razzaq menyebutkan dari Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Abdurrahman bin Ka’ab bin Malik: Bahwa seorang wanita Yahudi menghadiahkan seekor kambing yang sudah masak di Khaibar kepada Nabi SAW. Beliau bertanya, “Apa ini? Wanita itu menjawab, “Hadiah”. Wanita itu khawatir kalau mengatakan ‘ini sedekah’, beliau tidak mau menyantapnya. Namun kemudian bersabda, “Hentikan!” Lalu beliau bertanya kepada wanita tersebut, “Apakah engkau membubuhi racun di daging ini?” wanita itu balik bertanya, “Siapa yang memberitahukanmu tentang hal itu?” Beliau menjawab, “Tulang ini”.(Sambil menunjuk ke kaki kambing yang ada di tangannya. Wanita itu mengaku, “Memang demikian”. Beliau bertanya lagi, “Mengapa engkau lakukan itu?’ wanita itu menjawab, “aku ingin, jika engkau berdusta, maka orang-orang akan enyah darimu. Tetapi jika engkau benar-benar seorang Nabi, makanan itu tidak akan membahayakanmu.” Akhirnya Rasulullah SAW meminta dibekam pada bagian pundaknya di tiga titik, dan memerintahkan para sahabat untuk berbekam juga. Namun, sebagian di antara mereka meninggal dunia.

Beliau SAW melakukan upaya detoksifikasi racun dengan mengeluarkan pengaruh racun yang terbawa bersama aliaran darah sehingga mencegah bahaya yang mematikan. Cara licik dengan meracuni Nabi SAW dinilai cara terbaik untuk membunuh Beliau SAW kerena pada saat itu sangat kecil kemungkinan untuk membunuh beliau melalui jalur peperangan dikarenakan pada saat itu kaum muslimin telah menjadi bangsa yang tak terkalahkan dalam berbagai peperangan. Sedangkan upaya pembunuhan dengan menggunakan racun yang secara Toksikologi karakteristik racun adalah harus tidak berasa, tidak berbau dan tidak merubah tekstur warna makanan dapat menghindari kecurigaan orang yang mengkonsumsinya. Dalam hal ini hanya perlindungan Allah sehingga membuat Beliau dapat selamat dari hal yang mengerikan tersebut.

Dan Kemuliaan Itu pun Tiba

Setelah kejadian upaya pembunuhan di Khaibar Rasulullah SAW masih sempat hidup hingga tiga tahun berikutnya, sampai akhirnya beliau wafat setelah menderita sakit yang membawa kepada kematian beliau.

Rasulullah SAW pernah berkata, “Aku masih merasakan pengaruh dari makanan yang pernah kusantap dari daging kambing Khaibar. Sehingga inilah saatnya usiaku berakhir”. Lalu Rasulullah SAW wafat sebagai syahid.

Saat Allah sudah menghendaki untuk memberi kemuliaan mati syahid kepada beliau, bekas dari racun yang tersembunyi dari racun tersebut pun mulai tampak untuk merealisasikan takdir-Nya.

Demikianlah orang-orang Yahudi mendurhakai Nabi-Nya sehingga mereka menjadi orang-orang yang fasiq dan mendustakan kebenaran dari Tuhannya, maka mereka menjadi orang-orang yang berpenyakit pada hatinya. “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya”.(Al-Baqarah : 10). Wallahu ‘alam Bisshawwab.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: