AQIDAH DAN IBADAH SEBAGAI PONDASI KESEHATAN DAN KESEMBUHAN

Penulis: “Lukman Khalid Basyarahil”

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat,” Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya”.” (Al Qur-an Surat Shaad: 71 72)

Sebagai muslim dan mukmin kita meyakini dengan sesungguhnya bahwa dunia dan isinya termasuk manusia adalah makhluq (ciptaan). Sebagai ciptaan tentunya semua makhluq sangat bergantung kepada kehendak dan kekuasaan Sang Khaliq (Allah Ta’ala). Lebih dari itu manusia yang tak lebih merupakan ciptaan harus/wajib tunduk dan patuh pada aturan-aturan dan petunjuk Sang Khaliq dalam mengarung kehidupan yang dibatasi oleh ruang dan waktu ini.

“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu”

(Al Qur-an Surat Az-Zumar : 62)

“Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baiknya bentuk”

(Al Qur-an Surat At-Tin : 4)

Dengan menyakini bahwa Allah yang menciptakan semua makhluq, tentunya kita harus meyakini [pula bahwa Allah-lah Yang Maha Mengetahui tentang semua ciptaanNya, baik dari materi, kemampuan dan tujuan penciptaannya. Untuk itu kita wajib mengimani bahwa Allah Ta’ala telah menetapkan segenap aturan dan sistim yang amat lengkap bagi ciptaannya (manusia) termasuk tuntunan berkenaan dengan kesehatan, kesembuhan dan pengobatan.

“Dan tidaklah Aku (Allah) ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah” (Al Qur-an Surat Adz-dzariyat : 56)

Sementara itu tujuan uatama diciptakan manusia adalah untuk mengabdi kepada Sang Khaliq. Pengabdian ini harus secara totalitas dalam semua aspek kehidupan mulai bangun tidur hingga tidur. Seluruh tuntunan ibadah ini telah dicontohkan secara sempurna oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Alhasil dengan keimanan yang benar bahwa manusia sebagai makhluq akan menjadikan kehidupannya di dunia sebagai ladang ibadah sesuai dengan aturan dan panduan yang ditetapkan Allah Ta’ala dan RasulNya. Bila pijakan ini dijaga dan diamalkan Insya Allah tercapai umat yang sehat jasmani dan rohani.

Sehat dan Sakit

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (Al Qur-an Surat Al Baqarah : 155 – 157)

“Sesungguhnya pahala yang besr didapatkan melalui cobaan yang besar. Kalau Allah mencintai seseorang, pasti Allah akan memberikan cobaan kepadanya. Barangsiapa yang ridha menerima cobaannya, maka ia aman menerima keridhaan Allah. Dan barang siapa yang kecewa menerimanya, niscaya ia akan menerima kemurkaan Allah”. (Hadits Riwayat At-Tirmizi)

Sehat dan sakit merupakan fitrah yang silih berganti dialami setiap insane selama menjalani kehdiupan di dunia. Kedua kondisi ini menyimpan hikmah dan kebaikan yang besar tatkala kita menghadapi dan menjaninya sesuaituntunan Islam. Karena itu kita senantiasa menyikapi sehat dan sakit dengan selalu mengharapkan kebaikan kepada Allah Ta’ala.

Ketika sehat, kita manfaatkan semaksimal mungkin untuk melakukan aktivitas yang baik untuk diri, keluarga dan umat dengan dasar nilai-nilai ibadah. Disamping itu kita juga selalu berupaya menjaga kesehatan jasmani dan rohani sesuai tuntunan Al Qur-an dan Hadits. Karena muslim dan muslimah dituntut untuk memperhatikan kesehatannya guna menghindarkan riri dari kondisi lemah dan tak berdaya.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam sebagai manusia yang paling sehat telah memberikan teladan yang luar biasa dalam usaha-usaha memlihara kesehatan jasamani dan rohani. Rasulullah adalah telkadan yang palking baik dan sempurna dalam shalat, berzdikir, puasa, kepemimpinan, pola makan-minum dan istirahat. Sebagai manusia yang paling dekat kepada Allah Ta’ala, Rasulullah memiliki keimanan yang paling unggul dan hal itu sangat berpengaruh besar pada kepribadiannya yang utama.

“Ada dua kenikmatan yang sering terlupakan oleh banyak orang; nikmat sehat dan nikmat waktu luang” (Hadits Riwayat Bukhari)

Selain itu Rasulullah adalah manusia yang paling sempurna seluruh rangkaian ibadahnya, paling gigih Jihad Fi Sabilillah sekaligus sebagai suami yang paling baik dan romantis. Hal ini membuktikan bahwa beliau adalah insane yang paling kuat dan sehat jasmani dan rohani. Karena untuk mengakkan ibadah harus didasari ketaatan, kekuatan jasmani dan rohani yang mendapatkan rahmat dan hidayah dari Allah Ta’ala.

Dalam keteladanan memlihara kesehatan, Rasulullah merupakan contoh yang paling sempurna dalam mengatur dan menjaga pola makan dan minum. Beliau telah mencontohkan untuk selalu mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal dan thayib dan itu berasal dari unsur daging, buah, sayuran, madu, susu, zaitun, jintan hitam, kurma dan lainnya. Rasulullah juga selalu menghindari makanan dan minuman yang tidak sesuai dengan musim, menjauhi yang habits (menjijikkan). Begitupula dalam mengatur dan mencukupi waktu istirahat beliau merupakan contoh terbaik. Dari keteladanannya dalam hal istirahat (tidur), bahwa kualitas istirahat lebih utamadari kuantitas. Dengan semua keutamaan itulah sehingga tubuhnya menebarkan aroba harum.

“Tidak ada ‘bencana’ yang lebih buruk yang diisi oleh manusia daripada perutnya sendiri. Cukuplah seseorang itu mengkonsumsi beberapa suap makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Kalau terpaksa, maka ia bisa mengisi sepertiga dengan makanan, dan sepertiga dengan minuman, dan sepertiga sisanya untuk nafasnya”. (Hadits Riwayat At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim)”

Ulama kedokteran Islam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Ath-Thibbun Nabawi menjelaskan dalam usaha meraih kesehatan adal tiga hal yang perlu diperhatikan dan dilakukan yang merawat kesehatan, meningkatkan antibody dan pengobatan secara Islami.

Menyikapi Sakit

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kami menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu…(Al Qur-an Surat Al Baqarah : 216)

“Setiap muslim yang terkena musibah penyakit atau yang lainnya, pasti akan Allah hapuskan berbagai kesalahannya, seperti sebuah pohon meruntuhkan daun-daunnya” (Hadits Riwayat Muslim)

Selain itu Rasulullah juga merupakan teladan dan motivator terbaik dalam menyikapi sakit sekaligus sebagai pakar yang tiada tandingnya dalam tindakan pengobatan (terapi). Dalam menyikapi sakit Rasulullah senantiasa melihatkan Allah Ta’ala Yang Maha Penyembuh, dengan keyakinan dan kebenaran bahwa dibalik rasa sakit terdapat segudang hikmah dan kebaikan.

“Dan apabila aku sakit, maka Dia (Allah) akan memberikan kesembuhan” (Al Qur-an Surat Asy Syu’ara: 80)

“Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan Dia menurunkan obatnya” (Hadits Riawayat Bukhari dan Muslim)

Adapun sikap kita dalam menghadapi sakit tentunya tinggal meneladani akhlaq Rasulullah, baik sikap, ucapan dan tindakan pengobatan. Sedangkan tindakan pengobatan untuk berbagai penyakit yang digariskan oleh Islam adalah Ruqyah, Al-Hijamah (bekam), Dawa’ (obat) dan terpai pendukung lainnya.

Ruqyah adalah pengobatan untuk semua penyakit dengan pembacaan ayat-ayat Al Qur-an atau doa-doa yang disyariatkan. Ruqyah juga dimaknai Ta’wizdul marid bi azdkaril masyru’ah (berlindung dari rasa sakit dengan doa-doa yang disyariatkan).

Al Hijamah (Bekam) adalah tindakan pengobatan dengan mengeluarkan darah kotor dari tubuh.Adapun area (titik) bekam sudah ada panduan dari Rasulullah.

Dawa’ (obat/herbal) adalah tindakan pengobatan dengan menggunakan ramuan alami sebagaimana yang telah diresepkan dalam Al Qur-an dan Al Hadits, diantaranya menggunakan madu, al habbatus sauda (jintan hitam), zaitun, zam-zam, kuma, gandum dan lainnya.

Memperhatikan makanan dan minuman bagi mereka yang sakit juga merupakan panduan penting tersendiri yang telah diajarkan islam. Lebih dari itu Islam melarang keras (mengharamkan) berobat dengan barang maupun metode yang haram atau bertentangan dengan syariat.

Sesungguhnya dengan mengamalkan tuntunan pengobatan Islami, Insya Allah kita mendapatkan kesembuhan dan kesehatan yang sesungguhnya. Disamping itu dengan mengandalkan tuntunan pengobatan ini dalam kehidupan sehari-hari insya Allah juga menjadi sarana ibadah atau dengan kata lain ‘berobat sambil beribadah’.

Tuntunan pengobatan Islami ini sesungguhnya sejak dini sudah dijelaskan dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam segala aspek problem kesehatan, baik kiat-kiat pencegahan, perawatan maupun pengobatan. Dengan meneladani metode pengobatan yang disampaikan Nabi Shalallahu Alaihi Wasalam kiranya tidak ada lagi pengobatan lain yang lebih diandalkan karena pengobatan Islami adalah pengobatan terbaik yang berdasar pada tuntunan Ilahiyah.

Sayangnya, masih terlalu banyak diantara kaum muslimin yang belum mengetahuii secara jelas dunia kedokteran Islam (metode pengobatan Islami). Hal ini bisa jadi lantaran minimnya informasi dari kalangan Ulama maupun da’i. Bahkan fakta di lapangan juga menunjukan minimnya Ulama atau da’i yang menekuni atau mengembangkan Ath-Thibbun Nabawi.

Meski demikian, belakangan ini pengobatan yang merujuk pada metode pengobatan Islami mulai berkembang hampir di seluruh dunia. Mereka yang mengembangkan ada diantaranya yang menjalankan metode pengobatan ini secara terpadu dari semua tuntunan pengobatan Islami. Tapi ada pula yang mengandalkan pengobatan dengan salah satu metode, apakah bekam saja, ruqyah atau herbal saja. Ada juga yang memadukan sebagiannya, misalnya hijamah dengan herbal atau ruqyah dengan dan lainnya..

Insya Allah. kendati mengandalkan salah satu metode pengobatan Islamii mampu membantu siapapun yang mengalami problem kesehatan atau dalam rangka pemeliharaan kesehatan dan terapi. Namun demikian ‘khasiat’ pengobatan Islami akan semakin efektif dan efisien bila dijalankan dengan mamadukan semua konsep pengobatan Islami.

Tuntunan pengobatan yang diajarkan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam sebenarnya sudah banyak diamalkan dan ditulis para sahabat, tabiut tabi’in, Imam Mazhab, Imam Bukhori dan Imam Muslim, kalangan Ulama Salaf seperti Ibnu Taimiyah, Ibnu Hajar Al Asqolani, Ibnul Qoyyim Al Zauziyah dan lainnya.

Entah mengapa dunia kedokteran Islam yang pernah jaya di masa lalu itu tiba-tiba meredup, sampai pada umumnya masyarakat memahami bahwa pengobatan yang ‘layak’ berasal dari barat. Tapi Alhamdulillah, belakangan ini kaum muslimin khususnya mulai menyadari bahwa khasanah pengobatan Islami merupakan solusi yang paling mujarab, dan bila diaplikasikan dengan benar tidak ada satupun metode pengobatan yang sanggup menandingi.

Kami sangat mengharapkan dan juga turut berupaya agar metode pengobatan Islami ini semakin memeasyarakat dan benar-benar dijadikan sebagai solusi utama dalam pengobatan. Karena kami yakin dan insyaAllah semua kaum muslim meyakini bahwa metode pengobatan Islami mudah dijalankan, murah dan insyaAllah memberikan kesembuhan yang sesungguhnya. Wallahu A’lam…

PERBEDAAN DASAR PENGOBATAN ISLAMI DAN KONVENSIONAL

Konvensional

01. Memahami keberadaan manusia berdasarkan teori evolusi

02. Pengetahuan berdasarkan akal

03. Mengamati manusia dari fisik.

04. Mendasarkan pengobatan dengan teori melawan racun dengan racun.

05. Penggunaan obat dari khamr. Dan barang subhat, khobits

06. Menempuh satu obat dengan satu penyakit.

07. Menggunakan satu metode untuk satu penyakit.

08. Terapi bersifat menahan rasa sakit / keluhan.

09. Orientasi terapi lebih pada proses.

10. Melegalkan operasi/bedah organ dalam

11. Arah pengobatan tak menentu dan cenderung tak rasional

Islami

01. Memahami keberadaan manusia sebagai makhluk.

02. Pengetahuan berdasarkan keyakinan.

03. Mengamati manusia dari jasmani dan rohani.

04. Mendasarkan pengobatan penyakit dengan obat.

05. Penggunaan obat dari yang halal dan thayib.

06. Menggunakan satu obat untuk banyak penyakit.

07. Menggunakan satu metode untuk banyak / atau semua penyakit.

08. Terapi bersifat mengeluarkan penyakit.

09. Orientasi terapi pada hasil.

10. Tidak melegalkan operasi/bedah organ dalam kecuali bisul dan busung lapar

11. Arah dan target pengobatan jelas dan rasional

Simpan Artikel : ” AQIDAH DAN IBADAH SEBAGAI KESEHATAN DAN KESEMBUHAN “

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: